PEDAGANG ASONG JUGA MANUSIA
UBMNEWS15/01- Sore itu pedagang asongan di gerbong kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bekasi ,kini tinggal menunggu hari untuk digusur oleh para kamtib yang tak berperasaan.Larangan untuk berdagang dengan alasan “mengotori” stasiun membuat mereka tak lagi dapat berkata kata. Terkadang para kamtib menggusur mereka dengan cara yang tak manusiawi.
“Pada
awalnya kami telah mengumpulkan mereka (pedagang asongan) dan membicarakan hal
ini secara baik – baik, dan meminta kerja sama dari mereka untuk mengkuti
peraturan yang ada, tapi tidak ada respon yang baik dari mereka.” Kata Iik
seorang customer service yang di
temui di kantornya.
“Tidak
ada sama sekali!” Hanya ini yang terlontar dari mulut banyak pedagang asongan
yang di temui di gerbong kereta api Jakarta – Bekasi.
Adanya
kontra yang terjadi memperlihatkan kepada masyarakat luas, betapa bobroknya
sikap saling mengerti di antara sesama kita. Sangatlah ironis ketika kita
melihat ada sesama kita yang sedang kesusahan namun kita hanya melihat dari
kejauhan.
“Saya
di seret – seret, di tarik – tarik, coba anda pikir, apakah itu yang harus di
lakukan untuk mengusir kami dari gerbong kereta?” Itulah yang dikatakan oleh
seorang pedagang asongan.
Sangatlah
tidak menjamin ketertiban jikalau kita hanya bsa memperlakukan mereka dengan
cara yang seperti itu. Namun sebuah pembelaan terlontar dari seorang custemer
service yang bernama iik yang mengatakan bahwa tidak ada pemaksaan dan
kekerasan di dalam peringatan tersebut.
“Kami
bukan maling! Kenapa harus di seret seperti
itu?” Ucapan keras terlontar dari seorang pedagang asongan yang
sangatlah geram dengan perlakuan para penjaga yang memakai baju loreng – loreng
hijau yang tak pernah ramah terhadap mereka.
“Kami
sudah memberikan surat kepada mereka yang berisi tetang pemberitahuan bahwa
tidak diperbolehkan berdagang di area stasiun termasuk di dalam gerbong kereta.
Namun mereka yang masih tetap kekeh , ya mau tidak mau barang bawaan mereka
harus kami sita semua dan kami memusnahkan itu semua.”Kata Iik
“Mana
ada si pemberitahuan ke kita tentang ini, surat mah “boro –boro” sampe ke tangan kita. Kita di sini juga cuma denger
denger ada surat itu, tapi kalau untuk ke tangan saya secara langsung ga pernah
tuh,” Kata seorang pedagang asongan.
Dan para pedagang asong berkata
bahwa mereka dapet mengambil barang dagangan mereka dengan cara menebus barang
dagangan mereka
“50.000 dan materai seharga 8.000 total
yang harus di bayar kurang lebih 58.000 rupiah kalau kita mau mengambil barang
– barang dagangan kita.”kata ambar salah seorang pedagang asongan.
Iik dengan lantang mengatakan bahwa
tidak ada sama sekali persetujuan antara para petugas dari PT.KAI degan para
pedagang asongan. Dan tidak pernah ada bayar membayar seperti yang telah
dikatakan para pedagang asongan.
Dari
kedua kubu, mereka sangatlah teguh dalam
pendirian mereka masing masing, dan bagi kita yang medengar secara langsungpun tak dapat memastikan
kebenaran cerita yang mereka bicarakan kepada kita.
Sebagian
orang tak perduli dengan mereka, namun rasa ibapun tak luput dari pendapat para
pengguna kereta api tersebut. Mereka merasa baik – baik saja dengan kehadiran
para pedagang asongan, justu mereka merasa terbantu, karena selain mereka
berkeliling, mereka juga menawarkan harga yang relatif lebih murah.
“Kasian,
karena mereka juga kan cari makan, kasian aja kalau sampai pekerjaan mereka
satu- satunya di hilangkan oleh PT.KAI,”Kata Toni dan Indah pengguna kerta api
yang sedang menunggu di Stasiun Manggarai.
“terganggu juga, kan tau sendiri kalau
udah ramai di dalem gerbong, tapi kasian juga, karena mereka juga kan mencari
nafkah”Kata Erna seorang pengguna kereta api
“Coba
sama sama kita pikirkan, apakah membuang sampah sembarangan di daerah stasiun
merupakan hal yang mereka perhatikan, karena selama ini saya tidak menemukan
mereka membersihkan sampah – sampah mereka, cuma bikin berantakan.” Kata Said
seorang petugas PT.KAI.
Iik
berkata bahwa tidak ada uang yang dikeluarkan oleh mereka untuk berdagang dan
tidak ada kerjasama antara seorang petugas dan seorang pedagang.Namun ini di
bantah oleh para pedagang asongan yang mengaku membayar uang untuk kebersihan
stasiun.
“Kami
bayar uang kebersihan, bahkan sesekali kami membersihkan stasiun dengan cara
menyapu membersihkan stasiun!” Kata segerombolan pedagang asongan dengan suara
yang lantang dan penuh rasa kesal.
Sayangnya
kami tidak dapat mewawancarai salah seorang dari aparat keamanan di sekitar lokasi
stasiun karena mereka merasa humas lah yang lebih berhak.
Sangatlah
tak bisa di percaya keadaa yang seperti ini dapat terjadi di sekeliling kita. Para
pedagang asonganpun mengaku telah bekerja sama dengan para pengaman kereta
dengan cara membayar uang keamanan atau yang sangat akrab di sebut dengan uang
rokok oleh para petugas keamanan sekitar stasiun.
“Kami
bayar uang keamanan kepada para petugas untuk mengijinkan kita semuapara
pedagang asongan untuk berdagang di sekitar stasiun bahkan di dalam gerbong
kereta setiap harinya.”kata ambar seorang pedagang asongan.
Namun
hal ini tetap di bantah oleh Iik, mereka hanya di bayar untuk mengamankan
sekitar stasiun dan di dalam kereta untuk meminimalisir kejahatan yang ada. Dan
cara yang di gunakan dengan “mengusir” pedagang asongan, pengemis dan juga
pemulung yang ada di sekitar stasiun maupun di dalam gerbong kereta.
Mungkin
kejadian seperti ini seharusnya tak terjadi di daerah stasiun, hanya dengan membicarakan
secara kekeluargaanlah masalah seperti ini akan cepat selesai. Karena mereka
juga manusia biasa, sama seperti kita, mereka butuh makan dan menafkahi
keluarga mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar