Selasa, 19 Februari 2013

pedagang asong juga manusia


PEDAGANG ASONG JUGA MANUSIA




UBMNEWS15/01- Sore itu pedagang asongan di gerbong kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bekasi ,kini tinggal menunggu hari untuk digusur oleh para kamtib yang tak berperasaan.Larangan untuk berdagang dengan alasan “mengotori” stasiun  membuat mereka tak lagi dapat berkata kata. Terkadang para kamtib menggusur mereka dengan cara yang tak manusiawi.
“Pada awalnya kami telah mengumpulkan mereka (pedagang asongan) dan membicarakan hal ini secara baik – baik, dan meminta kerja sama dari mereka untuk mengkuti peraturan yang ada, tapi tidak ada respon yang baik dari mereka.” Kata Iik seorang customer service yang di temui di kantornya.

“Tidak ada sama sekali!” Hanya ini yang terlontar dari mulut banyak pedagang asongan yang di temui di gerbong kereta api Jakarta – Bekasi.
Adanya kontra yang terjadi memperlihatkan kepada masyarakat luas, betapa bobroknya sikap saling mengerti di antara sesama kita. Sangatlah ironis ketika kita melihat ada sesama kita yang sedang kesusahan namun kita hanya melihat dari kejauhan.
“Saya di seret – seret, di tarik – tarik, coba anda pikir, apakah itu yang harus di lakukan untuk mengusir kami dari gerbong kereta?” Itulah yang dikatakan oleh seorang pedagang asongan.
Sangatlah tidak menjamin ketertiban jikalau kita hanya bsa memperlakukan mereka dengan cara yang seperti itu. Namun sebuah pembelaan terlontar dari seorang custemer service yang bernama iik yang mengatakan bahwa tidak ada pemaksaan dan kekerasan di dalam peringatan tersebut.
“Kami bukan maling! Kenapa harus di seret seperti  itu?” Ucapan keras terlontar dari seorang pedagang asongan yang sangatlah geram dengan perlakuan para penjaga yang memakai baju loreng – loreng hijau yang tak pernah ramah terhadap mereka.
“Kami sudah memberikan surat kepada mereka yang berisi tetang pemberitahuan bahwa tidak diperbolehkan berdagang di area stasiun termasuk di dalam gerbong kereta. Namun mereka yang masih tetap kekeh , ya mau tidak mau barang bawaan mereka harus kami sita semua dan kami memusnahkan itu semua.”Kata Iik
“Mana ada si pemberitahuan ke kita tentang ini, surat mah “boro –boro” sampe ke tangan kita. Kita di sini juga cuma denger denger ada surat itu, tapi kalau untuk ke tangan saya secara langsung ga pernah tuh,” Kata seorang pedagang asongan.
            Dan para pedagang asong berkata bahwa mereka dapet mengambil barang dagangan mereka dengan cara menebus barang dagangan mereka
            “50.000 dan materai seharga 8.000 total yang harus di bayar kurang lebih 58.000 rupiah kalau kita mau mengambil barang – barang dagangan kita.”kata ambar salah seorang pedagang asongan.
            Iik dengan lantang mengatakan bahwa tidak ada sama sekali persetujuan antara para petugas dari PT.KAI degan para pedagang asongan. Dan tidak pernah ada bayar membayar seperti yang telah dikatakan para pedagang asongan.
Dari kedua kubu, mereka sangatlah teguh  dalam pendirian mereka masing masing, dan bagi kita yang medengar  secara langsungpun tak dapat memastikan kebenaran cerita yang mereka bicarakan kepada kita.
Sebagian orang tak perduli dengan mereka, namun rasa ibapun tak luput dari pendapat para pengguna kereta api tersebut. Mereka merasa baik – baik saja dengan kehadiran para pedagang asongan, justu mereka merasa terbantu, karena selain mereka berkeliling, mereka juga menawarkan harga yang relatif lebih murah.

“Kasian, karena mereka juga kan cari makan, kasian aja kalau sampai pekerjaan mereka satu- satunya di hilangkan oleh PT.KAI,”Kata Toni dan Indah pengguna kerta api yang sedang menunggu di Stasiun Manggarai.
“terganggu juga, kan tau sendiri kalau udah ramai di dalem gerbong, tapi kasian juga, karena mereka juga kan mencari nafkah”Kata Erna seorang pengguna kereta api
 
“Coba sama sama kita pikirkan, apakah membuang sampah sembarangan di daerah stasiun merupakan hal yang mereka perhatikan, karena selama ini saya tidak menemukan mereka membersihkan sampah – sampah mereka, cuma bikin berantakan.” Kata Said seorang petugas PT.KAI.
Iik berkata bahwa tidak ada uang yang dikeluarkan oleh mereka untuk berdagang dan tidak ada kerjasama antara seorang petugas dan seorang pedagang.Namun ini di bantah oleh para pedagang asongan yang mengaku membayar uang untuk kebersihan stasiun.
“Kami bayar uang kebersihan, bahkan sesekali kami membersihkan stasiun dengan cara menyapu membersihkan stasiun!” Kata segerombolan pedagang asongan dengan suara yang lantang dan penuh rasa kesal.
Sayangnya kami tidak dapat mewawancarai salah seorang dari aparat keamanan di sekitar lokasi stasiun karena mereka merasa humas lah yang lebih berhak.
Sangatlah tak bisa di percaya keadaa yang seperti ini dapat terjadi di sekeliling kita. Para pedagang asonganpun mengaku telah bekerja sama dengan para pengaman kereta dengan cara membayar uang keamanan atau yang sangat akrab di sebut dengan uang rokok oleh para petugas keamanan sekitar stasiun.
“Kami bayar uang keamanan kepada para petugas untuk mengijinkan kita semuapara pedagang asongan untuk berdagang di sekitar stasiun bahkan di dalam gerbong kereta setiap harinya.”kata ambar seorang pedagang asongan.



Namun hal ini tetap di bantah oleh Iik, mereka hanya di bayar untuk mengamankan sekitar stasiun dan di dalam kereta untuk meminimalisir kejahatan yang ada. Dan cara yang di gunakan dengan “mengusir” pedagang asongan, pengemis dan juga pemulung yang ada di sekitar stasiun maupun di dalam gerbong kereta.
Mungkin kejadian seperti ini seharusnya tak terjadi di daerah stasiun, hanya dengan membicarakan secara kekeluargaanlah masalah seperti ini akan cepat selesai. Karena mereka juga manusia biasa, sama seperti kita, mereka butuh makan dan menafkahi keluarga mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar